Welcome

Medical Laboratory Technology

Medical Laboratory Technologist

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world

Be Confident

Do not consider ourselves not able to before trying, learning, and practice

Keep Thankfull

No need trying to be other people. Therefore, you are special and better than them

Keep Moving

Do not mind those who are trying to bring you down. They do it because they have to be below you

Anak Memiliki Kelainan Genetik, Apa Sebabnya?

Setiap orang ingin anaknya sehat dan lahir secara normal, namun banyak diantara saudara kita yang memiliki kelainan genetik. Apa sebenarnya penyebab anak memiliki kelainan genetik jika dilihat secara keilmuan?
dr Widya Eka Nugraha, konselor genetika dari RS Medika Dramaga Bogor menjelaskan bahwa secara definisi, kelainan genetik adalah mutasi pada gen. Mutasi gen ini menyebabkan adanya perubahan di tingkat kromosom, sel atau bahkan jaringan.
Perubahan pada sel hingga jaringan inilah yang menyebabkan kondisi seseorang berbeda dengan yang lainnya. Penyakit-penyakit langka seperti Treacher Collins syndrome, Pierre Robin syndrome hingga Apert syndrome merupakan beberapa penyakit akibat adanya kelainan genetik pada anak.
Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami kelainan genetik? Hingga saat ini, dr Eka mengatakan belum ada penelitian yang menyimpulkan penyebab pasti kelainan genetik. Ibarat lotere, risiko seseorang mengalami kelainan genetik sangat random.
"Kalau saya mengibaratkan seperti baton pada lari estafet. Ketika diberikan di awal, baton masih mulus atau bagus. Tapi ketika diberikan ke pelari setelahnya bisa saja baton pernah jatuh dan rusak. Sehingga, tidak selalu orang pertama yang salah," urainya, ketika ditemui detikHealth di acara Meet and Sharing Session, Komunitas Indonesia Rare Disorders, baru-baru ini.
Dijelaskan dr Eka, ada dua teori yang menjelaskan bagaimana kelainan genetik terjadi. Yang pertama, orang tua, dalam hal ini ayah dan ibu, merupakan carrier atau pembawa kelainan genetik dari generasi sebelumnya. Namun kelainan tersebut tidak bermanifestasi atau tidak aktif sehingga ayah dan ibu tidak menyandang penyakit langka.
"Persentasenya fifty-fifty. Jadi kalau ayah dan ibunya merupakan carrier, anaknya bisa mengalami kelainan genetik. Tapi kalau hanya salah satunya, kelainan tidak muncul dan anak bisa saja juga menjadi carrier," urainya.
Teori kedua adalah teori lotere yang sudah disebutkan sebelumnya. Baik ayah maupun ibu bukan merupakan carrier kelainan genetik. Namun ada proses perubahan sel atau mutasi pada anak yang terjadi secara random.
"Bisa jadi terjadi kesalahan saat bertemunya sperma dan sel telur. Sehingga mutasi terjadi saat pembuahan. Ini benar-benar random dan bisa terjadi pada siapa saja," ungkapnya.



Sumber: http://health.detik.com

Antibodi

sumber : wikipedia

Antibodi merupakan suatu zat yang dibentuk oleh tubuh dan berasal dari protein darah jenis gamma-globulin dan berfungsi sebagai pertahanan terhadap zat asing (antigen) yang masuk kedalam tubuh. 1)
Tentunya kita pernah mendengar mengenai golongan darah. Pada golongan darah terdapat dua jenis antigen yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B, zat yang dapat menggumpalkan aglutinogen disebut aglutinin (antibodi). Golongan darah A memiliki aglutinogen A dan aglutinin B sedangkan golongan darah B memiliki aglutinogen B dan aglutinin A, sehingga kalo orang dengan golongan darah A mendapat transfusi dari orang yang bergolongan darah B maka yang akan terjadi adalah aglutinin B yang terdapat pada golongan darah A akan menggumpalkan aglutinogen B yang terdapat pada golongan darah B, juga aglutinin A yang terdapat pada golongan darah B akan menggumpakan aglutinogen A, sehingga akan terjadi penggumpalan sel darah. Oleh karena itu tidak boleh sembarangan melakukan transfusi tanpa dilakukan uji cocok serasi terlebih dahulu.
Pada kasus di atas, terdapat perlawanan terhadap antigen asing yang masuk dan sistem pertahanan tubuh melakukan reaksi terhadap zat asing tersebut dengan cara menggumpalkannya. Nah menurut cara kerjanya, Ada beberapa antibodi seperti dibawah ini:
  1. Opsonin : Merupakan antibodi yang bekerja dengan cara merangsang leukosit untuk menyerang antigen / zat asing yang masuk kedalam tubuh.
  2. Lisin : Merupakan antibodi yang bekerja dengan cara menghancurkan antigen (lisis)
  3. Presipitin : Merupakan antibodi yang bekerja dengan cara mengendapkan antigen / zat asing
  4. Aglutinin : Merupakan antibodi yang bekerja dengan cara menggumpalkan antigen
Kalau diatas adalah jenis antibodi berdasarkan cara kerjanya, sebenarnya  macam-macam antibodi itu seperti apa ya? 
Pada dasarnya antibodi tersusun atas struktur dasar yang disebut dengan rantai, dan tiap antibodi tersusun atas dua rantai berat besar dan dua rantai ringan.2) Terdapat beberapa macam rantai berat yang berbeda menyusun antibodi yang dimasukan kedalam kelas / isotype, lima isotype/kelas antibodi diketahui memiliki tugas dan fungsi yang berbeda untuk melakukan respon immunologi, kelima tipe antibodi ini adalah IgG, IgM, IgE, IgA dan IgD. 3)

IgM
Merupakan antibodi alami yang dihasilkan oleh tubuh ketika suatu infeksi terjadi. Antibodi jenis ini dihasilkan pada awal paparan. IgM melakukan respon antibodi primer, antibodi jenis ini banyak terdapat didalam darah, namun dalam keadaan normal atau tidak ada infeksi atau tidak ada zat asing masuk kedalam tubuh maka antibodi ini tidak ditemukan di dalam organ ataupun jaringan. Fungsi IgM adalah merangsang fagositosis mikroba oleh makrofag. 4)

IgG
Merupakan antibodi paling umum dan dihasilkan pada pemaparan selanjutnya, IgG melakukan respon antibodi sekunder yang bekerja lebih cepat daripada antibodi primer. IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dapat masuk melalui plasenta dari ibu ke janin dan berfungsi untuk melindungi janin di dalam kandungan dan melindungi bayi baru lahir sampai sistem kekebalan tubuh janin tersebut terbentuk. 4)

IgA
Merupakan antibodi yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadap masuknya mikroorganisme melalui lubang-lubang di permukaan tubuh. IgA merupakan sistem pertahanan tubuh lapis pertama. Immunoglobulin A atau IgA ditemukan pada bagian-bagian tubuh yang dilapisi oleh selaput lendir, misalnya hidung, mata, paru-paru, dan usus. IgA juga ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, seperti air mata, air liur, ASI, getah lambung, dan sekresi usus. IgA memiliki 3 fungsi utama, yaitu:
  • Mencegah mikroba masuk kedalam tubuh,
  • Mengikat mikroba yang hendak masuk kedalam tubuh,
  • Mengeluarkan mikroba dari dalam tubuh. 4)

IgE
Merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah dan dapat menyebabkan reaksi alergi segera terhadap serangan antigen. Tubuh seorang yang sering mengalami alergi memiliki kadar IgE yang tinggi. IgE berfungsi sebagai proteksi terhadap serangan parasit dan bersama-sama IgG mengikat serta mengusir antigen penyebab alergi. IgE penting dalam melawan infeksi parasit seperti river blindness dan skistosomiasis, yang banyak ditemukan di negara berkembang. 4)

IgD
Immunoglobulin D (IgD) merupakan antibodi yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam darah, getah bening dan permukaan limfosit. Fungsi IgD adalah untuk mengaktifkan sel B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel T dan membantu menangkap antigen. 4)

Untuk lebih memahi tentang sistem kekebalan tubuh, maka teman-teman perlu membaca artikel lain yang berjudul tentang sistem kekebalan tubuh. 



Kepustakaan

1) biologimediacentre.com
2)  (Inggris) "Immunobiology, figure 3.2 Immunoglobulin molecules are composed of two types of protein chain: heavy chains and light chains". Charles A. Janeway, et al. Diakses tanggal 2010-03-22.
3) (Inggris) Eleonora Market, F. Nina Papavasiliou (2003) V(D)J Recombination and the Evolution of the Adaptive Immune System PLoS Biology1
4) Kamusq.com


Seminar Ilmiah Sehari PATELKI DPC Jakarta Selatan

Buat teman teman yang ingin mengikuti seminar ilmiah untuk memantapkan keahliannya juga untuk menambah ilmu mengenai validasi pemeriksaan hematologi dan "darah tepi" berikut dengan cara pembuatan dan teknik pemeriksaannya. Ayo segera bergabung dengan seminar yang akan diadakan oleh Patelki DPC Jakarta Selatan. Seminar ini juga terbuka untuk umum lohhh... Untuk info lebih jelasnya, silahkan lihat gambar dibawah ini, dan bagi teman-teman yang ingin mendaftarkan diri sebagai peserta seminar, langsung aja hubungi kontak yang tertera di gambar.




HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

HPLC (High Performance Liquid Chromatography) atau biasa disebut dengan Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis bahan obat, baik dalam bulk atau dalam sediaan farmasetik yang dikembangkan pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an.

Sistem Peralatan HPLC
Instrumen ini pada dasarnya terdiri atas wadah fase gerak, pompa, alat untuk memasukan sampel (tempat injeksi), kolom, detektor, wadah penampung buangan fase gerak dan suatu komputer atau integrator atau perekam.
Diagram skematik sistem kromatografi cair seperti ini:
1. Wadah Fase Gerak dan Fase Gerak
Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Wadah pelarut kosong ataupun labu laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut. (1)

Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-komponen sampel. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak), kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut. 

Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari partikel-partikel kecil ini. Selain itu, adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan, sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis. 

Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi) yang analog dengan pemrograman suhu pada kromatografi gas. Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas. (4)
 
Fase gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik adalah campuran larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril. Untuk pemisahan dengan fase normal, fase gerak yang paling sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan fase normal ini kurang umum dibanding dengan fase terbalik. (2)

2. Pompa
Pompa yang cocok digunakan untuk HPLC adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase gerak. Bahan yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas, baja tahan karat, Teflon, dan batu nilam. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Untuk tujuan preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 mL/menit.

Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam HPLC yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan tekanan konstan. (6)

3. Tempat penyuntikan sampel
Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop) internal atau eksternal. 

4. Kolom dan Fase diam
Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut/analit.

Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom konvensional, yakni:
  • Konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10 -100 μl/menit).
  • Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spektrometer massa.
  • Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis.

 Meskipun demikian, dalam prakteknya, kolom mikrobor ini tidak setahan kolom konvensional dan kurang bermanfaat untuk analisis rutin.(3)

Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). 

Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugus-gugus fungsional yang lain.

Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.

5. Detektor HPLC
Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia.

Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
  1. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.
  2. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil.
  3. Stabil dalam pengopersiannya.
  4. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita.
  5. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier).
  6. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak. (2)

Beberapa detektor yang paling sering digunakan pada HPLC dengan karakteristik detektor seperti berikut :
JENIS HPLC
Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya). Berdasarkan pada kedua pemisahan ini, sering kali HPLC dikelompokkan menjadi HPLC fase normal dan HPLC fase terbalik.
Selain klasifikasi di atas, HPLC juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut, dengan jenis-jenis HPLC sebagai berikut:
1. Kromatografi Adsorbsi
Prinsip kromatografi adsorpsi telah diketahui sebagaimana dalam kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Pemisahan kromatografi adsorbsi biasanya menggunakan fase normal dengan menggunakan fase diam silika gel dan alumina, meskipun demikian sekitar 90% kromatografi ini memakai silika sebagai fase diamnya. Pada silika dan alumina terdapat gugus hidroksi yang akan berinteraksi dengan solut. Gugus silanol pada silika mempunyai reaktifitas yang berbeda, karenanya solut dapat terikat secara kuat sehingga dapat menyebabkan puncak yang berekor.(3)

2. Kromatografi fase terikat
Kebanyakan fase diam kromatografi ini adalah silika yang dimodifikasi secara kimiawi atau fase terikat. Sejauh ini yang digunakan untuk memodifikasi silika adalah hidrokarbon-hidrokarbon non-polar seperti dengan oktadesilsilana, oktasilana, atau dengan fenil. Fase diam yang paling populer digunakan adalah oktadesilsilan (ODS atau C18) dan kebanyakan pemisahannya adalah fase terbalik.
Sebagai fase gerak adalah campuran metanol atau asetonitril dengan air atau dengan larutan bufer. Untuk solut yang bersifat asam lemah atau basa lemah, peranan pH sangat krusial karena kalau pH fase gerak tidak diatur maka solut akan mengalami ionisasi atau protonasi. Terbentuknya spesies yang terionisasi ini menyebabkan ikatannya dengan fase diam menjadi lebih lemah dibanding jika solut dalam bentuk spesies yang tidak terionisasi karenanya spesies yang mengalami ionisasi akan terelusi lebih cepat.(3)

3. Kromatografi penukar ion
KCKT penukar ion menggunakan fase diam yang dapat menukar kation atau anion dengan suatu fase gerak. Ada banyak penukar ion yang beredar di pasaran, meskipun demikian yang paling luas penggunaannya adalah polistiren resin.
Kebanyakan pemisahan kromatografi ion dilakukan dengan menggunakan media air karena sifat ionisasinya. Dalam beberapa hal digunakan pelarut campuran misalnya air-alkohol dan juga pelarut organik. Kromatografi penukar ion dengan fase gerak air, retensi puncak dipengaruhi oleh kadar garam total atau kekuatan ionik serta oleh pH fase gerak. Kenaikan kadar garam dalam fase gerak menurunkan retensi solut. Hal ini disebabkan oleh penurunan kemampuan ion sampel bersaing dengan ion fase gerak untuk gugus penukar ion pada resin.

4. Kromatografi Pasangan ion
Kromatografi pasangan ion juga dapat digunakan untuk pemisahan sampel-sampel ionik dan mengatasi masalah-masalah yang melekat pada metode penukaran ion. Sampel ionik ditutup dengan ion yang mempunyai muatan yang berlawanan.2)

5. Kromatografi Eksklusi Ukuran
Kromatografi ini disebut juga dengan kromatografi permiasi gel dan dapat digunakan untuk memisahkan atau menganalisis senyawa dengan berat molekul > 2000 dalton.
Fase diam yang digunakan dapat berupa silika atau polimer yang bersifat porus sehingga solut dapat melewati porus (lewat diantara partikel), atau berdifusi lewat fase diam. Molekul solut yang mempunyai BM yang jauh lebih besar, akan terelusi terlebih dahulu, kemudian molekul-molekul yang ukuran medium, dan terakhir adalah molekul yang jauh lebih kecil. Hal ini disebabkan solut dengan BM yang besar tidak melewati porus, akan tetapi lewat diantara partikel fase diam. Dengan demikian, dalam pemisahan dengan eksklusi ukuran ini tidak terjadi interaksi kimia antara solut dan fase diam seperti tipe kromatografi yang lain.

6. Kromatografi Afinitas
Dalam kasus ini, pemisahan terjadi karena interaksi-interaksi biokimiawi yang sangat spesifik. Fase diam mengandung gugus-gugus molekul yang hanya dapat menyerap sampel jika ada kondisi-kondisi yang terkait dengan muatan dan sterik tertentu pada sampel yang sesuai (sebagaimana dalam interaksi antara antigen dan antibodi).
Kromatografi jenis ini dapat digunakan untuk mengisolasi protein (enzim) dari campuran yang sangat kompleks.(2)

DERIVATISASI PADA HPLC
Derivatisasi melibatkan suatu reaksi kimia antara suatu analit dengan suatu reagen untuk mengubah sifat fisika-kimia suatu analit. Tujuan utama penggunaan derivatisasi pada HPLC adalah untuk:
  • Meningkatkan deteksi
  • Merubah struktur molekul atau polaritas analit sehingga akan menghasilkan puncak kromatografi yang lebih baik
  • Merubah matriks sehingga diperoleh pemisahan yang lebih baik
  • Menstabilkan analit yang sensitif.(5)

Detektor yang paling banyak digunakan dalam HPLC adalah detektor UV-Vis sehingga banyak metode yang dikembangkan untuk memasang atau menambahkan gugus kromofor yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Di samping itu, juga dikembangkan suatu metode untuk menghasilkan fluorofor (senyawa yang mamapu berfluoresensi) sehingga dapat dideteksi dengan fluorometri.(7)
Suatu reaksi derivatisasi harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut, yakni: produk yang dihasilkan harus mampu menyerap baik sinar ultraviolet atau sinar tampak atau dapat membentuk senyawa berfluoresen sehingga dapat dideteksi dengan spektrofluorometri; proses derivatisasi harus cepat dan menghasilkan produk yang sebesar mungkin (100 %); produk hasil derivatisasi harus stabil selama proses derivatisasi dan deteksi; serta sisa pereaksi untuk derivatisasi harus tidakmenganggu pemisahan kromatografi.
Berbagai macam bahan penderivat telah  tersedia, antara lain:
Derivatisasi ini dapat dilakukan sebelum analit memasuki kolom (pre-column derivatization) atau setelah analit keluar dari kolom (post-column derivatization).

Referensi:
  1. Settle, F (Editor), 1997, Handbook of Instrumental Techniques for Analytical Chemistry, Prentice Hall PTR, New Jersey, USA.
  2. Meyer, F.R., 2004, Practical High-Performance Liquid Chromatography, 4th Ed., John Wiley & Sons, New York.
  3. Kealey, D and Haines, P.J., 2002, Instant Notes: Analytical Chemistry, BIOS Scientific Publishers Limited, New York.
  4. Kenkel, J., 2002, Analytical Chemistry for Technicians, 3th. Edition., CRC Press, U.S.A.
  5. Snyder, L. R.,  Kirkland, S.J., and Glajch, J.L., 1997, Practical HPLC Method Development, John Wiley & Son, New York.
  6. Munson, J.W., 1981, Phrarmaceutical Analysis: Modern Methods, Part A and B, diterjemahkan oleh Harjana dan Soemadi, Airlangga University Press, Surabaya.
  7. Cserhati, T. And Forgacs, E., 1999, Chromatography in Food science and Technology, Technomic Publishing, Lancaster, Basel.
resource: Blog Lansida

Cara Menggunakan Mikropipet

Mikropippet atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pipet mikro adalah suatu alat atau instrumen yang digunakan untuk memindahkan sampel dalam jumlah kecil secara akurat. Selain akurasi, pipet jenis ini juga memiliki presisi yang sangat bagus dibanding dengan pipet gelas atau pipet ukur lainnya. Meskipun pipet ini telah dirancang akurasi dan presisi nya oleh pabrik, alat ini juga perlu dikalibrasi supaya akurasi dan presisi nya tetap baik.
Ada beberapa macam micropipet yang digunakan dilaboratorium seperti misalnya pipet merk Gilson yang mana tertulis di bagian atas pipet P20, P200 dan P1000.
P 20 : untuk memipet larutan dengan volume antara 2 - 20 ul
P 200 : untuk memipet larutan dengan volume antara 20 - 200 ul
P 1000 : untuk memipet larutan dengan volume antara 100 - 1000 ul

Bagian micropipet terdiri dari automatic pippetor dan Pippete Tip. Automatic pippetor berfungsi untuk memompa larutan yang akan dipindahkan dengan volume yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan pippete tip berfungsi untuk menampung cairan yang dipompa. Untuk lebih detailnya, perhatikan gambar bagian bagian pipet dibawah ini: 

Pengoprasian Micropipet
Untuk menggunakan atau mengoprasikan micropipet dengan benar, maka harus diperhatikan beberapa tahapan dibawah ini:
1. Set atau atur volume cairan/larutan/sampel yang dibutuhkan

2. Pasang tip disposable

3. Tekan "Plungger button" atau penyedot sampai batas pertama

4. Masukan tip kedalam sampel

5. Ambil atau sedot sampel : Harus posisi tegak lurus kemudia lap dengan tisue bagian luar tip
6. Pindahkan sampel dengan cara menekan "Plungger button" sampai batas kedua

7. Lepaskan tekanan penyedot

8. Lepaskan tip
Sekian artikel cara menggunakan mikropipet kali ini, kalo ada tambahan silahkan comment dibawah artikel ini.

source: blog lansida